Pejabat Sementara Presiden: FIFA Tak Korupsi

Posted in Internasional on December 4, 2015 by

Pejabat Sementara Presiden: FIFA Tak Korupsi

Issa Hayatou memaparkan tak ada korupsi di dalam tubuh FIFA. Perihal itu dibeberkan lelaki yang ditunjuk sebagai pejabat sedangkan Presiden FIFA selepas Sepp Blatter diskors Komite Etik FIFA.

Hayatou mengungkap itu menyusul penangkapan dua anggota Komite Eksekutif FIFA di sela rangkaian perjumpaan komite yang tengah berlangsung di Zurich, Swiss. Presiden CONMEBOL Juan Angel Napout serta Presiden CONCACAF Alberto Hawit ditangkap pada Hari Kamis (3/12) dini hari waktu setempat.

Keduanya ditangkap karena terduga terlibat dalam formasi besar penyuapan hak pemasaran serta penyiaran turnamen serta laga.

“FIFA tak korupsi. Kami mempunyai individu yang sudah memperlihatkan perilaku negatif. Jangan menggeneralisasi keadaan,” ujar Hayatou yang juga presiden Konfederasi Sepak-bola Afrika tersebut sebagaimana yang dilansir dari The Guardian, Hari Jumat (4/12).

“Ada banyak orang di FIFA yang bekerja lebih dari 20 atau 30 tahun yang belum dituduh apa-apa.”

Hayatou memaparkan dirinya pun bukanlah bagian dari masalah kriminal itu Meskipun sudah memegang jabatan senior di FIFA selama lebih dari 25 tahun.

“Fakta bahwa aku telah di sini bertahun-tahun tak berarti apa-apa,” paparnya. “Saya tak terlibat dalam skandal apapun.”

Tapi, rekam jejak memperlihatkan bahwa Hayatou pernah beberapa kali terlibat dugaan suap. Pada 2011 lalu Hayatou dituduh menerima suap senilai US$1,5 juta dari Qatar untuk proses penentuan tuan rumah Piala Dunia 2022.

Panitia pemilihan Piala Dunia 2022 serta Hayatou sudah sama-sama menyangkal tuduhan tersebut.

Lainnya itu, Hayatou juga pernah ditegur Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 2011 lalu selepas kantor kabar BBC membeberkan namanya muncul di daftar pembayaran yang dibuat perusahaan pemasaran olahraga.

“Saya tak akan di sini bila aku korupsi,” paparnya. “Apakah parlemen membuktikan aku mempunyai US$1,5 juta? Aku belum pernah menerima satu euro atau dolar pun untuk memilih siapapun agar menjadi tuan rumah Piala Dunia.”